Tampilkan postingan dengan label Pembenihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembenihan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2009

Hatchery Udang Galah Skala Rumah Tangga

Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan. Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas.


Pemilihan Lokasi
Untuk menentukan lokasi backyard hatchery udang skala rumah tangga tentu saja berbeda dengan hatchery skala besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah :
1. Mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah
2. Tersedia aliran listrik selama 24 jam
3. Tanah dasar bak cukup stabil
4. Dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran.

Sarana
Kelengkapan sarana yang diperlukan untuk kebutuhan backyard hatchery udang galah adalah :
1. Bak pemeliharaan larva dari fiberglass atau semen dengan kapasitas 2-8 ton
2. Bak kultur plankton berkapasitas 5-10 ton
3. Wadah penetasan artemia
4. Blower (sumber aerasi)
5. Peralatan lapangan (pompa, blender, saringan pakan, ember, gayung)

Seleksi Induk
Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :
1. Ukuran induk betina dan jantan minimal 50 gram
2. Jumlah telur cukup memadai
3. Organ tubuh lengkap, bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen
4. Umur induk antara 8-16 bulan

Pemijahan
Udang galah memijah sepanjang tahun, biasanya terjadi pada malam hari. Induk betina yang siap memijah dapat dilihat dari gonadnya yang berwarna kemerahan (merah oranye) menyebar ke seluruh bagian gonad sampai ke bagian kepala. Sebelum pemijahan, udang betina terlebih dulu akan berganti kulit. Setelah keadaannya pulih kembali maka akan segera terjadi proses pemijahan.
Pemijahan dapat dilakukan di bak beton atau fiber glass dengan padat tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1:3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan cumi-cumi dengan dosis 3% per hari dari berta biomas dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari. Lama pemijahan 21 hari.

Penetasan Telur
Induk yang sudah matang telur dilakukan seleksi kemudian di treatment dengan larutan PK (Kalium permanganat) 15 ppm dengan cara perendaman selama 25 menit. Bak penetasan yang digunakan berkadar garam 5 ppt, padat penebaran induk 20 ekor/m2 . Selama penetasan telur, induk diberi pakan berupa cacahan cumi-cumi sebanyak 5% dari berat biomas. Telur akan menetas dalam waktu 6-12 jam. Kemudian larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan.

Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva udang galah dapat dilakukan pada bak fiber glass kerucut atau bak beton yang sudagh dibersihkan dari kotoran dan dicuci dengan menggunakan larutan kaporit 10 ppm. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan larva tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan baik pakan alami maupun pakan adonan yang disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Kepadatan larva yang ditebar 50 ekor/liter.
Pakan berupa nauplius artemia diberikan pagi dan sore hari pada hari ke-3. Pada hari yang sama diberikan juga pakan adonan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian 8 kali/hari. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20-30%, pada hari ke 10 mulai dilakukan penyiphonan kotoran pada dasar bak. Kadar garam media pemeliharaan larva 10 ppt.
Setelah seluruh larva menjadi juvenil, kadar garam diturunkan secara bertahap sampai 0 ppt, grading mulai dilakukan setelah larva berumur 30 hari, lalu pada hari ke 45 juvenil siap untuk dipasarkan.


Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara


Baca Selengkapnya......

Teknologi Produksi Benih Kepiting Bakau

Kepiting bakau termasuk satu diantara komoditas perikanan bernilai ekonomis penting di wilayah Indo-Pasifik. Produksi kepiting bakau Indonesia selama ini masih sangat mengandalkan hasil penangkapan di alam dan hanya sebagian kecil dihasilkan dari kegiatan budidaya, seperti yang sudah berkembang di beberapa daerah di antaranya Bone, Sulawesi Selatan.


Berdasarkan peluang usaha tersebut mengakibatkan intensitas penangkapan kepiting di alam terus meningkat baik yang beaikuran konsumsi maupun ukuran kecil sebagai benih dalam kegiatan budidaya, sehingga di beberapa daerah dilaporkan telah terjadi tangkap lebih yang bcrdampak merusak populasinya di alam. Untuk mengimbangi laju penangkapan tersebut perlu adanya upaya ke arah pembenihan terkendali.
Sejak beberapa tahun terakhir ini Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol-Bali telah berhasil memproduksi benih kepiting bakau dari spesies Scylla paramamosain. Disamping itu, telah dilakukan kerjasama penelitian dengan Bribie Island Aquaculture Research Center (BIARC) Australia yang dibiayai oleh ACIAR Project No. FIS/1999/076.
Kepiting bakau dapat digolongkan ke dalam 4 spesies, masing-masing Scylla serrata, S. tranquebarica, S. paramamosain dan S. olivacea yang semuanya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Namun di BBRPBL - Gondol induk yang digunakan adalah dari spesies S. paramamosain, sedangkan di Australia adalah spesies S. serrata.
Kategori induk yang digunakan dalam pembenihan adalah jenis kepiting betina dewasa debar kerapas > 12 cm), dalam kondisi sehat yang dicirikan dengan warna cerah, anggota tubuh lengkap serta respon yang cepat apabila kaki renangnya ditarik.

PENGELOLAAN INDUK
Sebelum transportasi dianjurkan untuk melakukan perendaman kepiting dalam air garam yang bersih (kadar garam 25-34 ppt) selama 3-5 menit untuk menghindari dehidrasi selama transportasi. Pada saat transportasi sebaiknya kepiting disimpan dalam kondisi suhu rendah. Induk yang telah ditransportasi direndam dalam larutan formalin 200 ppm selama 15-20 menit untuk mencegah adanya kontaminasi dari luar.
Bak pemeliharaan induk dapat berupa bak beton ataupun fiberglass dengan menggunakan substrat pasir putih setebal 5 cm dan sistem air mengalir. Ketinggian air dalam tangki berkisar 40-50 cm. Padat tebar induk dalam bak berkisar 1 ekor per m2. Pemberian pakan berupa daging kerang laut dan ikan rucah dengan perbandingan 1:1 dengan dosis 15% bobot tubuh pada induk dengan tingkat kematangan gonad (TKG) I dan menurun sampai 5% pada TKG IV atau menjelang pemijahan.
Pemijahan (inkubasi)
Pemijahan induk kepiting bakau biasanya berlangsung 1 - 2 minggu setelah dipelihara dalam bak. Waktu pemijahan selalu berlangsung pada malam hari. Induk yang mengandung telur sebaiknya direndam dalam larutan formalin dosis 50 ppm selama 1 jam untuk menghilangkan parasit dan jamur yang mcnempel pada massa telur. Lama inkubasi antara 8-10 hari pada kondisi suhu 29-30°C. Selama masa inkubasi induk kepiting tidak diberi makan hal ini untuk menjaga kebersihan lingkungan. Waktu penetasan telur selalu berlangsung pada pagi hari.
Bentuk dan ukuran tangki
Bentuk tangki yang ideal adalah bulat kerucut dengan kemiringan dasar tangki ± 10°. Ukuran yang disarankan dengan volume 1.000-5.000 liter.

PEMELIHARAAN LARVA

Pengelolaan air laut
Air laut sebelum digunakan terlebih dahulu harus disterilisasi dengan klorin 10 ppm selama 24 jam, selanjutnya ditambahkan Na-thiosulfal dengan dosis 5 ppm untuk menetralkan klorin yang masih tersisa di dalam air laut.
Penanganan larva
Sebelum dilakukan penebaran larva, sebaiknya suhu air disesuaikan dengan yang ada pada bak penetasan. Goncangan suhu diusahakan hanya bcrkisar 1 °C. Padat tebar larva berkisar 50-100 ekor/ L. Tingkatan stadia kepiting bakau terdiri dari: zoea-1 sampai dengan zoea-5 : 12-14 hari; megalopa: 7-10 hari dan selanjutnya menjadi krablet (kepiting muda).
Pemeliharaan megalopa – krablet
Setelah mencapai stadia megalopa dilakukan panen dan pemindahan ke dalam bak pendederan. Hal ini untuk mengurangi kanibalisme, karena megalopa sudah dapat berenang cepat dan sudah dilengkapi sepasang capit untuk menangkap mangsanya. Pendederan biasanya berlangsung selama 2 minggu hingga mencapai stadia krablet-2 sampai krablet-4. Pendederan dengan kepadatan 250 -1.000 ekor/rm dan menggunakan shelter berupa karang dan waring, dapat menghasilkan sintasan sebesar 70-80% krablet-2 sampai krablet-4 yang selanjutnya sudah siap ditebar di tambak.

BALAI BESAR RISET PERIKANAN BUDIDAYA LAUT
Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kec. Gerokgak
Kab. Buleleng - Singaraja 81155
PO.Box. 140 Singaraja-81101
Telp.: 0362-92278; Fax.: 0362-92272
E-mail: gondol_dkp@singaraja.wasantara.net. id

Baca Selengkapnya......